Iklan

Kiai Azaim: Sehat Bertemu dengan Afiyat akan Menjadi Energi dan Kekuatan

KHR Ahmad Azaim Ibrahimy saat mengisi kuliah subuh

Serambimata.com – Selalu ada catatan penting di setiap pelaksanaan kegiatan dakwah dan sosial, Muhibah Umat yang digelar rutin oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) Situbondo hampir setiap bulan itu. Sayangnya catatan-catatan itu tak semuannya dapat dituang di dalam tulisan. Padahal andai semua yang terekam dari apapun yang dilihat, didengar bahkan dialami akan menjadi cerita panjang bahkan ilmu yang dapat dienyam untuk bekal kehidupan.

Pesan penting penasihat DMI Situbondo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy disetiap memberikan ceramah, obrolan bahkan sekedar candaan selalu menarik untuk menjadi bahan renungan bahkan kajian. Salah satunya adalah kalam hikmah yang disampaikannya pagi itu, Minggu (16/09/2018), usai sholat Subuh berjama’ah di Masjid Al Iman, dusun Pesisir desa Mlandingan Kulon, Situbondo yang menjadi tempat kegiatan Muhibah Umat II (tahap 5).

Saat itu, kiai muda berkharisma yang waktunya tak lagi penuh untuk Muhibah Umat seperti dulu karena kesibukannya, mengupas tentang pentingnya sehat dan Afiyat yang selalu disandingkan dalam setiap ucapan dan do’a seorang Muslim. Menurutnya, sehat dan afiyah bila disinergikan akan melahirkan energi dan kekuatan bagi kehidupan.

“Kesehatan ketika berjumpa dengan al afiyah akan menjadi energi kekuatan kehidupan kita”, kata pengasuh keempat Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo mengawali kulian subuhnya.

Dalam pandangan sosok yang akrab dipanggil Kiai Azaim itu, tidak semua orang mendapatkan anugerah keduanya, sehat dan afiyah. Ada yang hanya memperoleh sehat tanpa afiyah, begitu juga sebaliknya, ada yang afiyah tapi tidak sehat. Dan yang paling buruk adalah yang tidak mendapatkan keduanya, tidak sehat dan afiyat.

“Saya teringat akan peristiwa yang ditulis di sebuah koran di tahun 90 an. Seseorang kakek-kekek yang sudah berusia 70 an tahun mati mengenaskan, ia ditemukan mati dalam keadaan sedang berzina dengan mulut mengeluarkan busa. Fisiknya tidak sehat, perbuatannya juga tidak afiyat. Na’uzdubillahi min dzalik”, kisah Kiai Azaim sebagai contoh bagi orang yang tidak sehat juga tidak afiyat.

Sejurus kemudian, dengan mengutip pesan Nabi Muhammad SAW, cucu Kiai Asad itu mengingatkan kepada jama’ah sholat subuh yang terdiri dari masyarakat dan peserta Muhibah Umat itu tentang hubungan perilaku dan kebiasaan seseorang semasa hidup dengan jalan kematiannya.

“Nabi telah mengingatkan, orang itu akan mati dalam kondisi berdasarkan kebiasaan yang dimiliki di dunia. Yang biasa menjaga masjid sangat besar peluangnya wafat ketika sedang menjaga masjid. Yang biasa mengaji Al Qur’an, besar peluangnya wafat ketika mengaji Al Qur’an. Namun sebaliknya ketika di dunia terbiasa melakukan perbuatan buruk, na’udzubillah ia bisa mati dalam kondisi perbuatan buruknya tersebut”, tambahnya membuat suasana semakin hening dalam kekhidmatan menyimak mauidhoh-mauidhohnya.

Golongan kedua menurut Kiai Azaim adalah orang yang tidak afiyat tapi sehat. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang memiliki kekuatan dan kesehatan tapi kesehatannya tidak digunakan untuk taat kepada Allah swt.

“Ada orang yang mampu mengangkat beban sekian ton, pukulannya mematikan, tapi kekuatannya ini digunakan untuk menganiaya orang lain, menjadi preman, perampok, begal. Itulah contoh tubuh yang sehat tapi hasilnya digunakan untuk yang maksiat. Tentu yang ini kita tidak berharap, na’udzubillahi min dzalik“, paparnya.

Ada lagi, ada orang yang tidak sehat tapi afiyat, menurut Kiai Azaim kelompok ini lumayan. Ia mencontohkan ada seorang wanita yang usianya sudah 90 an tahun. Secara kesehatan ia sudah masuk usia udzur bahkan untuk membedakan nilai mata uang sudah tidak jelas tapi berbeda ketika membuka mushaf al Qur’an, penglihatannya jadi jelas, terang bahkan mampu membaca Al Quran.

“Kita juga menemukan orang yang cacat secara fisik, tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, tapi ibadahnya mengalahkan orang-orang yang normal”, jelas alumni pesantren Ar Rusaifah, Mekkah itu.

Di akhir nasihatnya, Kiai yang mengaku rutin melakukan pengobatan ala Nabi SAW atau tibbun Nabawi itu menyampaikan kondisi ideal seorang muslim yakni sehat dan afiyat. Tidak hanya sehat wal afiyat dunia tapi juga di akhirat.

“Karena kalau kita minta begitu berarti kita minta masuk surga, dan penghuni surga nanti adalah orang-orang yang selalu sehat dan afiyat. Tidak ada di surga itu orang yang tidak sehat, dan tidak ada di surga itu orang yang tidak afiyat. Sebaliknya yang masuk neraka seluruhnya orang yang tidak sehat dan tidak afiyat. Allahumma ajirna minannar, pungkasnya.

Usai mengisi kuliah subuh, karena suasana masih agak gelap, Kiai Azaim dan peserta Muhibah Umat sejenak beristirahat di penginapan sebelum kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi rumah-rumah penduduk dan tokoh-tokoh masyarakat sebagai salah satu bagian program di setiap kegitan Muhibah Umat. Senyum ramahnya selalu terpencar setiap kali bertemu dengan penduduk yang dilaluinya, tak tampak raut lelah meskipun nyaris tak ada kesempatan untuk sekedar beristirahat karena waktu-waktunya ia habiskan untuk berdakwah dan mengurus pesantren besar yang diasuhnya.

Karena itu, bagi saya, sosok dan penampilannya yang energik dan bersahaja mencerminkan fisik dan kepribadian yang benar-benar sehat wal afiyat fid dunwa wal alhirah. Semoga terus disehat dan diafiyahkan serta dipanjangkan umurnya oleh Allah swt. Aamiin…

Iklan

About serambimata

Terus menulis

Posted on 22 September 2018, in Agama and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: