Iklan

Jokowi, Lidah Jawa dan “Gorengan” Al Fatekah

Serambimata.com – Dua hari terakhir ada dua kabar yang paling banyak berseliweran di time line saya. Tentang didiskualifasinya atlet Judo Indonesia di ajang Asian Para Games 2018, Miftahul Jannah karena enggan membuka jilbab. Sedang kabar viral lainnya adalah beredarnya video Presiden Joko Widodo yang mengucapkan “Al Fatekah” yang menjadi bahan tertawaan dan hinaan netizen.

Untuk kabar pertama soal keteguhan hati Miftahul Jannah akan dikupas pada bagian lain dari tulisan ini. Sekarang mari kita telisik soal viral video Jokowi tentang logat dan ucapannya yang terdengar aneh ketika sang Presiden mengucapkan Al Fatekah bukan Al Fatehah.

Seperti diketahui, Presiden Jokowi membuka kegiatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVII tahun 2018 di Gedung Serba Guna, Jalan Wiliam Iskandar, Kota Medan, Sumatra Utara (Sumut), Minggu (7/10/2018).
Pada kesempatan itu Presiden Jokowi mengajak semua yang hadir dalam acara tersebut untuk bersama-sama membacakan surat Al Fatihah untuk korban bencana alam dan para keluarga yang selamat agar diberi kesabaran dan ketabahan.

Namun saat mengajak hadirin membaca Al-Fatihah, hadirin justru meresponnya dengan tawa. Pasalnya Presiden Jokowi bukan mengucap Al Fatihah, tapi Al Fatekah.

“Ala hadihin niat, al fatekah...,” ucap Presiden Jokowi.

Sontak hadirin yang mendengar nyeletuk “Al Fatihah…”

Benar saja, video tersebut jadi viral di sosial media. Seperti diduga, bagi kubu lawan dan rombongan pembenci Jokowi, video itu menjadi sasaran empuk untuk disebar hingga ribuan kali di sosial media dengan caption beragam berisi hinaan dan cemoohan.

Lidah Jawa

Tanpa bermaksud membela Jokowi secara membabi buta. Tapi itulah lidah Jawa, dan secara turun temurun sudah seperti itu adanya. Bagi mereka huruf H berubah K dalam pengucapan sudah menjadi ciri khas mereka tanpa bermaksud mengurangi ta’dzim (mengagungkan) kepada Al Fatihah itu sendiri.

Dalam sejarah terungkap, ulama pelopor era Wali Songo, Sayyid Syamsuddin Al-Baqir Al-Farsi, oleh lidah Jawa disebut sebagai Syekh Subakir. Tidak ada yang mempermasalahkan karena Itulah lidah Jawa.

Bahkan dua murid penerus Syekh Subakir pun disebut dengan logat Jawa:
– Mbah Iskak (Maulana Ishak)
– Mbah Brahim (Ibrahim Asmoroqondi)

Mbah Iskak menikahi Dewi Sekardadu dikarunia Raden Ainul Yaqin alias Sunan Giri.

Di Jawa, pengucapan alhamdulillah menjadi Alkamdulillah sudah sangat lazim di telinga sebagaimana ucapan Al Fatekah untuk Al Fatihah.

Bagi orang medan juga bukan hal aneh bila mengucapkan kata Allah menjadi Alloh sebagaimana juga lidah orang Sulawesi yang selalu menyebut Allah (dengan huruf A bukan O).

Lain lagi dengan Turki, di negara berjuluk Negeri Kebab itu, nama Muhammad diadopsi menjadi Mehmed. Habib terbaca Khabib seperti yang tampak pada nama petarung MMA yang lagi menjadi buah bibir, Khabib Nurmagomedov

Lalu, kenapa harus dipersoalkan bila tiap suku bangsa punya lidah beda-beda. Jokowi juga bukan seorang santri apalagi ustadz yang identik dengan ahli agama dan fasih bacaan Al Qur’annya. Ia hanyalah seorang pemimpin negara yang beragama Islam tapi berasal dari suku jawa dengan lidah yang berbeda dengan lainnya.

Salah satu video yang disebar di Media Sosial.

(Sebagian data diperoleh dari KataKita)

Iklan

About serambimata

Terus menulis

Posted on 9 Oktober 2018, in Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: