Iklan

Dari Sukorejo Sejarah Kembali Tercipta, Kaligrafi Pancasila Terbesar di Indonesia bahkan Dunia

Serambimata.com – Dengan iringan do’a dan dzikir basmalah yang dipimpin lansung Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, teks Pancasila dan Deklarasi tentang hubungan Pancasila dan Islam yang ditulis huruf Arab atau kaligrafi raksasa berlahan-lahan dibuka. Dalam waktu singkat, kaligrafi berukuran 27 x 9 meter yang semula ditutupi bendera merah putih akhirnya terbuka dengan diiringi pekikan takbir dan sholawat oleh ribuan santri, Ulama, Kiai, pejabat, pengurus Pesantren dan keluarga besar Pesantren Sukorejo.

Sejauh mata memandang, di hadapan ribuan santri yang mengenakan busana serba putih, tampak teks kaligrafi raksasa dengan warna dasar coklat kuning terpampang megah pada 7 tiang yang ditanam kokoh untuk menopang karya sepktakuler 17 orang santri pilihan itu. Ada tiga bagian pada kaligrafi yang satu hari sebelumnya digotong oleh 313 santri tersebut. Pada bagian pertama tertulis teks latin Pancasila yang diikuti ayat Al Qur’an yang memperkuat keabsahan pada setiap sila dari Pancasila. Di bagian tengah terdapat teks Arab dan latin yang bertulis lima sila dari Pancasila. Sedang pada bagian lainnya terdapat teks kaligrafi yang memuat deklarasi tentang hubungan Pancasila dan Islam.

Berikut video lounchingnya :

Usai dilounching dan dilanjutkan dengan sambutan Pengasuh Pesantren, menejer MURI Ridho Al Amin yang hadir mewakili Jaya Suprana menyampaikan penilaiannya terhadap mahakarya santri tersebut sebelum akhirnya menyerahkan piagam penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia atas rekor penulisan teks Pancasila dengan kaligrafi aksara terbesar.

“Setelah kami verifikasi, terdapat tulisan Pancasila disertai aksara Arab terbesar. Hal itu berdasar hasil pengukuran yang dilakukan tadi. Ukuran kaligrafi yang ada, tidak kurang dari panjang 27 meter dan lebar 9 meter. Harapan saya, semoga kaligrafi ini dapat menginspirasi bagi pemuda pemudi untuk menjaga Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Maka ijinkan saya untuk menyerahkan piagam penghargaan”, kata Ridho seraya mengucapkan selamat Hari Santri.

Ia menambahkan, karya spektakuler santri Pesantren Sukorejo tidak hanya menjadi kaligrafi terbesar di Indonesia tapi juga berhasil memecahkan rekor dunia.

“Kaligrafi yang ada di sini, tidak hanya memecahkan rekor Indonesia tapi juga rekor dunia”, tambahnya disambut gemuruh takbir dan sholawat.

Penghargaan dari Museum Rekor MURI kepada Pondok Pesantren yang sudah berusia lebih dari satu abad itu menjadi semakin berkesan dan istimewa karena bersamaan dengan perayaan Hari Santri Nasional (HSN) yang ditetapkan tanggal 22 Oktober. Oleh karena itu pembuatan kaligrafi raksasa tersebut dilakukan dengan detail dan persiapan matang. Sehingga segala sesuatu yang terkait dengan kaligrafi tersebut mengandung pesan dan sarat makna. Hal itu diungkapkan oleh pengasuh keempat Pesantren Sukorejo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy. Ia menyampaikan, kaligrafi raksasa itu tidak dibuat secara sembarangan. Dalam proses pembuatannya, pihaknya sangat memperhatikan kandungan nilai filosofi yang terkandung di dalamnya. Lebih-lebih, kaligrafi itu dilounching dalam rangka memperingati hari santri.

“Ukuran luas kaligrafi dengan panjang 27 x 9 meter. Angka 27 melambangkan pelaksanaan muktamar ke 27 NU di Pesantren Sukorejo yang melahirkan penerimaan asas tunggal pancasila di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo tahun 1984. Sedangkan lebar 9 meter mengandung makna 9 wali (Wali Songo) yang mengislamkan tanah jawa”, ungkap Kiai muda yang akrab disapa Kiai Azaim itu.

Selain itu, menurut Kiai Azaim, kaligrafi tersebut dikerjakan oleh 17 santri. Angka 17 sama dengan 17 rakaat dalam sehari semalam. Al qur’an juga diturunkan ke langit dunia pada tanggal 17 ramadhan. Bahkan kemerdekaan Indonesia diraih tanggal 17 Agustus 1945.

“Ini semua dalam rangka tafa’ulan bil khoir, artinya berharap kebaikan dari suatu kebaikan”, harapnya.

Penjelasannya semakin mengundang penasaran untuk mengetahui lebih jauh tengang rahasia, pesan dan hikmah yang terkandung dari maha karya para santrinya itu. Benar saja, sejurus kemudian Kiai Azaim mengungkap tentang lamanya pengerjaan kaligrafi tersebut. Menurutnya, untuk menyelesaikan kaligrafi tersebut dibutuhkan waktu 22 hari, sama persis dengan perayaan hari santri nasional, tanggal 22 Oktober.

“Resolusi jihad yang diputuskan oleh Presiden Jokowi menjadi hari santri nasional adalah hari ini, 22 Oktober”, tambahnya.

Tidak hanya itu, sebelum dipasang, kaligrafi super besar itu digotong oleh 313 santri sambil membaca basmalah sebanyak 313 kali. Menurut cucu Kiai Asad itu, pasukan perang badar ketika sukses mengalahkan pasukan kafir hanya berjumlah 313 tapi mereka mampu mangalahkan lawan yang jumlahnya jauh lebih banyak hingga ribuan.

Yang tak disangka, hingga soal jumlah tiang penyangga kaligrafi pun juga tak sembarangan. Ada 7 tiang penyangga yang sengaja dipasang. Angka 7 ternyata selaras dengan jumlah 7 ayat pada surat Al Fatihah, jumlah lapisan langit ada 7, jumlah hari ada 7 serta lafadz kun fayakun yang diucapkan Allah disetiap berkehendak juga berjumlah 7 huruf.

Kiai Azaim berharap, dengan keberkahan angka-angka yang mengandung pesan dan makna yang begitu dalam tersebut, Sukorejo dapat memberikan persembahan untuk bangsa. Salah satunya adalah maha karya santri yang diasuhnya berupa kaligrafi raksasa yang berisi teks Pancasila dan deklarasi hubungan Pancasila dengam Islam.

Kita tentu bangga atas prestasi dan krearifitas yang dihasilkan oleh pesantren yang didirikan oleh KH. Syamsul Arifin itu. Karena di pesantren ini sejarah kembali tercipta setelah sebelumnya berkali-kali pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo mengukir sejarah, mulai menjadi tempat diterimanya Pancasila sebagai asas tunggal negara Indonesia, dinobatkannya KHR As’ad sebagai Pahlawan Nasional hingga yang terbaru, rekor dunia lewat maha karya kaligrafi terbesar yang berisi teks Pancasila dan deklarasi hubungan Pancasila dan Islam. (Hans)

Foto-foto Ekslusif :

Saat proses pengerjaan

Piagam rekor MURI

Penyerahan penghargaan rekor MURI kepada Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo.

Iklan

About serambimata

Terus menulis

Posted on 23 Oktober 2018, in Budaya and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: