“Pejuang Masjid” itu Telah Tiada

Serambimata.com – Di saat beliau ingin membahas tentang persoalan kemasjidan dan keumatan, beliau sering tak kenal waktu mengajak saya dan sahabat-sahabat seperjuangan lainnya untuk berkumpul, pagi, siang bahkan memasuki tengah malam. Tempat pertemuan pun beliau tak pernah pilah-pilih, hampir setiap rumah pernah beliau singgahi bahkan beliau tak segan untuk mengajak untuk bertemu di warung-warung kecil hingga cafe trotoar sekedar membahas garis-garis perjuangan.

Beliau adalah KHR Abdullah Faqih Gufron, Pengasuh Pondok Pesantren Tanjungrejo, Mangaran Situbondo yang hari ini, Sabtu, 12 Januari 2019, sekitar pukul 22.30 wib di RS Abdurrahem Situbondo, tiba-tiba pergi meninggalkan kami semua, untuk selama-lamanya.

Di akhir hayatnya beliau sedang menjalankan amanah sebagai ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Situbondo bahkan sedang menyiapkan beberapa agenda kegiatan yang terkait kemasjidan dalam kondisi yang tidak begitu sehat belakangan ini.

Saya dan mungkin sahabat-sahabat seperjuangan benar-benar kehilangan sosoknya yang gigih dalam berdakwah, kuat dan sabar. Apa yang beliau ucapkan selalu selaras dengan apa yang beliau lakukan. Ketika semasa hidupnya beliau menganjurkan untuk tak lelah berdakwah dalam organisasi sebagai wadah, beliau berdiri di paling depan memberikan uswah. Di saat beliau mengingatkan bahwa kita semua sama di mata Allah, beliau selalu mencontohkan bagaimana seorang kiai, tokoh dan pemimpin untuk tidak sungkan-sungkan bersama bahkan bersenda di tengah-tengah umatnya.

Sungguh saya kehilangan sosokmu Kiai. Sosok yang selama ini jadi guru, orang tua, pembimbing bahkan sahabat saat bercengkrama di teras-teras rumah sambil merebahkan badan dan minum bercangkir-cangkir kopi.

Masih segar di ingatan, pada acara Muhibah Umat terakhir di desa Palangan Jangkar, 29 – 30 Desember 2019 lalu, saya memyampaikan kepada beliau dengan disaksikan penasihat DMI KHR Ahmad Azaim Ibrahimy bahwa saat itu merupakan Muhibah Umat yang terakhir untuk periode 2. Dan subhanallaah, ternyata benar-benar yang terakhir engkau bersama kami berjuang di dalamnya, kiai…

Kini tak ada lagi sosok yang setiap saat mengingatkan agar surat-surat disiapkan dan tidak lupa melakukan koordinasi. Kini tidak ada lagi sosok yang sewaktu-waktu minta bertemu agar tak surutkan langkah dalam berjuang dan berdakwah. Sungguh, benar-benar tak akan kujumpai lagi sosok yang setiap saat menggugah kesadaran bahwa mengurusi masjid adalah kemuliaan. Ya Allah, Sang Pejuang Masjid itu kini benar telah tiada. Selama-lamanya…

Selamat tinggal Kiai, selamat jalan… untaian do’a selalu menyertaimu.

Situbondo, 12 Januari 2019

About serambimata

Terus menulis

Posted on 13 Januari 2019, in Sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: