Kiai Azaim: Andaikan Pandemi Covid-19 adalah Metafora dari Dosa dan Kedurhakaan

Oleh: KHR Ahmad Azaim Ibrahimy (Pengasuh Pondok Salafiyah Syafiiyah Sukorejo)

Andaikan pandemi Covid-19 adalah metafora dari dosa dan durhaka yang dilakukan.
Maka, setiap batasan aturan Tuhan adalah physical distance yang harus ditaati setiap insan.

أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ
Ketahuilah, sesungguhnya kawasan terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Andaikan pandemi Covid-19 adalah metafora dari dosa dan durhaka yang dilakukan.
Maka, baik atau buruk kejiwaan seseorang pada sejauh mana berpikir tentang objek peristiwa, keadaan, orang lain, atau gagasan, adalah psychological distance, sebagai ukuran tingkat tinggi atau rendah, dekat atau jauh, dalam mempengaruhi seberapa konkret atau abstrak suatu pemikiran.

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku, sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat!” (HR. Muslim).

Andaikan pandemi Covid-19 adalah metafora dari dosa dan durhaka yang dilakukan.
Maka, berteman dengan orang baik untuk berproses menjadi baik, adalah temporal distance sebagai ikhtiar pengendalian.

المَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَليَنْظُر أَحَدُكُم مَنْ يُخالِلُ
“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya!” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Andaikan pandemi Covid-19 adalah metafora dari dosa dan durhaka yang dilakukan.
Maka, menghindari berteman dengan orang buruk, adalah spatial distances (physical space), sebagai ikhtiar pengendalian infeksi nonfarmasi untuk menghentikan, atau memperlambat penyakit menular dalam penyebaran.

مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَالسُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبًا، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثًا
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Adapun pembawa minyak wangi, bisa jadi dia akan memberimu, atau engkau membeli darinya, atau engkau menjumpai aroma yang wangi. Sementara itu, pandai besi, bisa jadi dia membakar pakaianmu, atau engkau menjumpai bau yang tidak enak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Andaikan pandemi Covid-19 adalah metafora dari dosa dan durhaka yang dilakukan.
Maka, mengurangi kemungkinan kontak antara orang terinfeksi dan orang lain yang tidak terinfeksi, adalah hypothetical distances, sehingga dapat meminimalkan penularan, morbiditas, dan terutama, kematian.

رَأَيْتُ الذُّنُوبَ تُمِيتُ القُلُوبَ
“Aku melihat dosa dapat mematikan hati.” (Abdullah ibn al-Mubarok)

Andaikan pandemi Covid-19 adalah metafora dari dosa dan durhaka yang dilakukan.
Maka, social distance adalah efektif dilakukan ketika infeksi dapat ditularkan melalui kontak percikan atau droplet (batuk atau bersin); kontak fisik langsung; kontak fisik tidak langsung; atau transmisi melalui udara. Bagaikan dosa yang menular dari namîmah ucapan; zina sentuhan; pornografi penglihatan; atau ghîbah pendengaran.

كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu, telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifîn, Ayat 14)

Andaikan pandemi Covid-19 adalah metafora dari dosa dan durhaka yang dilakukan.
Maka, setiap kerugian dari segala upaya pembatasan, lockdown, terisolir dari dunia luar, terkucil dan kesepian, berkurangnya produktivitas, dan hilangnya manfaat lain yang berkaitan dengan interaksi manusia, adalah bagaikan penjara atau rumah tahanan.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thâhâ, Ayat 124).

Andaikan pandemi Covid-19 adalah metafora dari dosa dan durhaka yang dilakukan.
Maka, gejala khas yang terjadi akibatnya, semisal demam, batuk, kesulitan bernapas, nyeri otot hingga kelelahan. Bahkan yang lebih parah, bisa menyebabkan pneumonia berat, sindrom gangguan pernapasan akut, sepsis dan syok septik. Seluruhnya adalah bagaikan siksa derita menimpa setiap pelaku yang mengabaikan.

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging tersebut baik, (maka) baiklah seluruh tubuhnya. Dan apabila segumpal daging tersebut buruk, (maka) buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati!“. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Andaikan pandemi Covid-19 adalah metafora dari dosa dan durhaka yang dilakukan.
Jika dalam kasus saat infeksi ditularkan melalui air atau makanan yang terkontaminasi, atau oleh sebab vektor seperti nyamuk atau serangga lain, dan pada kasus yang lebih jarang, ditularkan dari orang ke orang. Infeksi atau vektor itu mungkin adalah transaksi mu’âmalah yang dhâlim, batil dan haram. Maka, pembatasan apapun tak lagi bisa diharapkan, bahkan tak ada satupun do’a yang terkabulkan.

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ، أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ “يَا رَبِّ، يَا رَبِّ!”، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟
“Kemudian Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wa Sallam menuturkan ada seorang lelaki yang bepergian jauh, rambutnya acak-acakan dan kotor. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku!”, sedang makanannya adalah haram, minumannya adalah haram, dan pakaiannya adalah haram, serta diberi makan dari yang haram, mana mungkin do’anya akan diterima?” (HR. Muslim).

Andaikan pandemi Covid-19 adalah metafora dari dosa dan durhaka yang dilakukan.
Maka, gejala panik, takut dan cemas akibat terhantui berbagai informasi tentang ancamannya, adalah terapi ketakwaan yang seharusnya dirasakan. Bukan menjadi psikosomatik yang dialami, atau gangguan pikiran (psyche) dan tubuh (soma) yang berkepanjangan.

فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
“Dalam hati mereka ada penyakit, kemudian ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al-Baqarah, Ayat 10).

Andaikan pandemi Covid-19 adalah metafora dari dosa dan durhaka yang dilakukan.
Maka, renungkanlah hikmah di balik peristiwa yang telah diajarkan!

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka!” (QS. Âli ‘Imrân, Ayat 191).

WAA Ibrahimy
Sukorejo, 1 April 2020 M.

About serambimata

Terus menulis

Posted on 1 April 2020, in Agama, Kesehatan and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: