Iklan

Category Archives: Budaya

“Karena Aku Azaim adalah Fawaid” (Puisi Kiai Azaim untuk Pamandanya)

Serambimata.com – Tak ada panggung megah atau gemerlap lighting seperti pengajian Sholawat Bhenning sebelum-sebelumnya. Tapi bagi ribuan jama’ah terutama para pencinta Sholawat Bhenning (Bhenning Mania) pengajian Sholawat Bhenning yang dilaksanakan di halaman RA Nailatus Sa’adah, desa Gudang kecamatan Asembagus terasa sangat berbeda.

Read the rest of this entry

Iklan

Keren! Sholawat Badar Menggema di Indonesian Idol 2018

Serambimata.com – Ada yang tidak biasa pada acara ajang pencarian bakat di salah satu stasiun televisi swasta, Senin (5/3/2018). Ayu Putrisundari, salah satu finalis Indonesian Idol 2018 menyanyikan Shalawat Badar. Bahkan, peserta asal Yogyakarta itu menyanyikan sembari memainkan piano.

Penampilan gadis kelahiran Cilegon 1998 ini langsung menuai pujian, hingga Arman Maulana, salah seorang dewan juri, sepertinya gatal jika tidak turut serta. Ia pun bernyanyi bersama Ayu. Tak hanya mereka berdua, penonton lain, termasuk dewan juri juga turut mengikuti alunan merdu suara Ayu.

Shalawat itu, bagi warga NU, demikian akrab bagi mereka. Pada permulaan acara, biasanya warga dan pengurus NU menyanyikannya setelah Indonesia Raya. Kini kemudian populer juga Ya Lal Wathan, syair yang digubah KH Wahab Hasbullah.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj pernah mengatakan, Shalawat Badarmenjadi bagian penting dari Nahdlatul Ulama sejak periode 1960-an. Shalawat itu memiliki spirit perjuangan ahli Badar dalam membantu perjuangan Rasulullah dalam perang pertama umat Islam dan Quraisy.

Menurut Kiai Said, NU memang tidak punya mars khusus.Sholawat Badar kemudian mengisinya, sehingga dilantunkan di acara-acara resmi organisasi NU atau kegiatan kultural warga NU. Semuanya terjadi secara alamiah.”Tidak ada yang mewajibkan, tapi telah menjadi wajib-wajib sendiri,” katanya.

Pada hari lahir ke-85 NU di Gelora Bung Karno, pada 2011 shalawat itu bergema dinyanyikan puluhan ribu Nahdliyin yang hadir.

Masyarakat juga mungkin masih ingat ketika Ketua Umum PBNU 1984-1999 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terpilih menjadi Presiden RI pada 1999. Para wakil rakyat, itu tanpa komando khusus, menyanyikan Shalawat Badar.

Gus Dur pada saat Muktamar NU ke-28 di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (26-11-1989) menyebutkan bahwa penggubah syair dan lagu Sholawat Badar adalah alm. KH Muhammad Ali Manshur Shiddiq Basyaiban. Konon ia menggubah syair itu saat ia Ketua PCNU di Banyuwangi.

Pada Oktober tahun lalu, PBNU menganugerahkan penghargaan kebudayaan kepadaKH Ali Manshur, penggubah shalawat itu.

(Sumber: NU Online)

Berikut vidionya :

Jokowi yang Sopan dan Baik Hati

Serambimata.com – Sebuah video saat Presiden Joko Widodo merunduk sambil merendahkan badan dan tangannya khas santri ketika berjalan melewati para Kiai, Gubernur bahkan politisi beredar luas di media sosial. Video tersebut dengan cepat beredar di Facebook, WhatsApp hingga youtube.

Read the rest of this entry

Lounching 3 Buku, Sholawat Bhenning, Teater Toleransi dan Al Badar pada Reuni Alumni

Serambimata.com – Reuni Alumni dalam rangka Haul Majemuk para Masyayikh dan Keluarga Besar Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo akan menjadi momen yang sangat istimewa. Tidak hanya menjadi ajang temu kangen para alumni yang datang dari berbagai pelosok nusantara tapi juga menjadi kesempatan untuk mengikuti peluncurkan tiga buku karya pengasuh dan santri Pondok Pesantren yang didirikan KH. Syamsul Arifin itu.

Read the rest of this entry

Benarkan Hari Ibu Produk Kafir? Ini Sejarah Kelahirannya di Indonesia

Kongres pertemuan pertama di Jogjakarta tahun 1928

Serambimata.com – Momentum hari Ibu tahun 2017 kali ini agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bukan karena kemeriahan atau keharuan bagi yang merayakannya tapi karena beredarnya video pernyataan ustadz Abdul Shomad yang lagi-lagi menuai pro kontra. Ustadz yang dikenal berawal dari unggahan video-video ceramahnya di youtube itu mengatakan, peringatan hari ibu merupakan budaya orang kafir.  Maka dengan menggunakan dasar sebuah hadist Nabi, ia menfatwakan orang yang merayakan hari ibu, baik mengucapkan atau memberikan hadiah kepada seorang Ibu tergolong kafir karena mengikuti tradisi kafir. 

Read the rest of this entry