Category Archives: Budaya

Islam Nusantara dan Tuduhan Anti-Arab

Oleh: Nadirsyah Hosen

Serambimata.com – Salah satu kegagalan banyak pihak memahami diskursus Islam NUsantara adalah dengan nyinyir seolah-olah warga NU itu anti segala hal berbau Arab. Maka mereka nyinyir kalau melihat tulisan saya mengutip sejumlah kitab Tafsir berbahasa Arab. “Anti-Arab kok mengutip kitab berbahasa Arab!” kata mereka.

Read the rest of this entry

Shalawat Bhenning, Seni Sakral KHR Ahmad Azaim Ibrahimy

Oleh: Gus M. Cholil Abdul Jalil*)

Serambimata.com – Besok malam tepatnya selasa malam Rabu 3 Juli 2018 di lapangan Rong Laok Sukorejo akan dilaksanakan Halal Bihalal bertemakan “Taburkan Maaf, Sucikan Hati” bersama KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, Jam’iyah Shalawat Bhenning dan Teatrikal Tahlil Bhenning Budaya. Saya teringat, Kira-kira 2016 kebelakang, konser dangdut dan pop melayu marak dijadikan tontonan masyarakat Situbondo.

Read the rest of this entry

“Karena Aku Azaim adalah Fawaid” (Puisi Kiai Azaim untuk Pamandanya)

Serambimata.com – Tak ada panggung megah atau gemerlap lighting seperti pengajian Sholawat Bhenning sebelum-sebelumnya. Tapi bagi ribuan jama’ah terutama para pencinta Sholawat Bhenning (Bhenning Mania) pengajian Sholawat Bhenning yang dilaksanakan di halaman RA Nailatus Sa’adah, desa Gudang kecamatan Asembagus terasa sangat berbeda.

Read the rest of this entry

Keren! Sholawat Badar Menggema di Indonesian Idol 2018

Serambimata.com – Ada yang tidak biasa pada acara ajang pencarian bakat di salah satu stasiun televisi swasta, Senin (5/3/2018). Ayu Putrisundari, salah satu finalis Indonesian Idol 2018 menyanyikan Shalawat Badar. Bahkan, peserta asal Yogyakarta itu menyanyikan sembari memainkan piano.

Penampilan gadis kelahiran Cilegon 1998 ini langsung menuai pujian, hingga Arman Maulana, salah seorang dewan juri, sepertinya gatal jika tidak turut serta. Ia pun bernyanyi bersama Ayu. Tak hanya mereka berdua, penonton lain, termasuk dewan juri juga turut mengikuti alunan merdu suara Ayu.

Shalawat itu, bagi warga NU, demikian akrab bagi mereka. Pada permulaan acara, biasanya warga dan pengurus NU menyanyikannya setelah Indonesia Raya. Kini kemudian populer juga Ya Lal Wathan, syair yang digubah KH Wahab Hasbullah.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj pernah mengatakan, Shalawat Badarmenjadi bagian penting dari Nahdlatul Ulama sejak periode 1960-an. Shalawat itu memiliki spirit perjuangan ahli Badar dalam membantu perjuangan Rasulullah dalam perang pertama umat Islam dan Quraisy.

Menurut Kiai Said, NU memang tidak punya mars khusus.Sholawat Badar kemudian mengisinya, sehingga dilantunkan di acara-acara resmi organisasi NU atau kegiatan kultural warga NU. Semuanya terjadi secara alamiah.”Tidak ada yang mewajibkan, tapi telah menjadi wajib-wajib sendiri,” katanya.

Pada hari lahir ke-85 NU di Gelora Bung Karno, pada 2011 shalawat itu bergema dinyanyikan puluhan ribu Nahdliyin yang hadir.

Masyarakat juga mungkin masih ingat ketika Ketua Umum PBNU 1984-1999 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terpilih menjadi Presiden RI pada 1999. Para wakil rakyat, itu tanpa komando khusus, menyanyikan Shalawat Badar.

Gus Dur pada saat Muktamar NU ke-28 di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (26-11-1989) menyebutkan bahwa penggubah syair dan lagu Sholawat Badar adalah alm. KH Muhammad Ali Manshur Shiddiq Basyaiban. Konon ia menggubah syair itu saat ia Ketua PCNU di Banyuwangi.

Pada Oktober tahun lalu, PBNU menganugerahkan penghargaan kebudayaan kepadaKH Ali Manshur, penggubah shalawat itu.

(Sumber: NU Online)

Berikut vidionya :

Jokowi yang Sopan dan Baik Hati

Serambimata.com – Sebuah video saat Presiden Joko Widodo merunduk sambil merendahkan badan dan tangannya khas santri ketika berjalan melewati para Kiai, Gubernur bahkan politisi beredar luas di media sosial. Video tersebut dengan cepat beredar di Facebook, WhatsApp hingga youtube.

Read the rest of this entry