Iklan

Arsip Blog

Melanjutkan Rekonsiliasi Alami

(Gambar: NU Online)


Oleh : Abdul Munim DZ *)
Serambimata.com – Dalam menghadapi eks-Tapol PKI ini terdapat dua kelompok, yaitu pertama kelompok yang menghendaki adanya rekonsiliasi politik yang didahului dengan pengadilan HAM. Kelompok ini terdiri dari kelompok pewaris PKI garis keras yang didukung beberapa aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Kedua, kelompok yang menolak rekonsiliasi dalam bentuk apapun. Kelompok ini didukung oleh beberapa kelompok Islam garis keras, termasuk kalangan TNI garis keras, sehingga benturan dan ketegangan diantara kedua kelompok itu cukup keras, baik pada di tingkat sosial maupun di panggung media.

Read the rest of this entry

Iklan

Kepincut NU, Cornelius AW Putuskan Mu’allaf di Tengah Islamophobia

Ariyanto Wibosono bersama Rois Aam PBNU, KH. Ma’ruf Amin

Serambimata.com – Menyimak perjalanan seorang ahli manajemen terkemuka, Cornelius Ariyanto Wibisono yang akhirnya memutuskan mu’allaf karena kepincut Nahdlatul Ulam’ (NU) mengingatkan pada kisah Almarhum KH. Hasyim Muzadi semasa hidupnya. Saat ia pernah bercerita tentang pertemuannya dengan pentolan FPI, Habib Rizieq. Dalam pertemuan itu Kiai Hasyim bertanya kepada Habib Rizieq “ya Habib, berapa orang non muslim yang telah Antum muallafkan?”. 
“Tidak ada Kyai, lha mereka saja takut ketemu saya”, jawan Habib Rizieq.

Atas jawaban Habib Rizieq itu, Kiai Hasyim Muzadi langsung menimpali “Datanglah ke pesantren saya, tiap bulan ada orang non muslim bersyahadat masuk Islam, tanpa saya membawa pentungan”.

Read the rest of this entry

NU – Muhammadiyah Luruskan Fitnah Pengusiran Santri Karimunjawa Jepara

NU – Muhammadiyah menandatangani Klarifikasi bersama (Foto: NU Online)

Serambimata.com – Dugaan adanya pihak tak bertanggung jawab yang sengaja membenturkan dua ormas terbesar di Indonesia, NU – Muhammadiyah pada polemik pembangunan pesantren Karimunjawa, Jepara akhirnya terjawab. Hal itu  terungkap dalam klarifikasi bersama antara NU dan Muhammadiyah untuk meluruskan kabar yang sempat viral di Media Sosial (Medsos) tersebut. 

Dilansir dari NU Online, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Daerah Muhammadiyah Jepara menggelar rapat koordinasi di ruang Mapolres Jepara, Jawa Tengah, Ahad (10/9) malam. Rapat membahas soal rumor yang beredar di media sosial terkait kasus pesantren di Karimunjawa, Jepara.

Rapat koordinasi yang dihadiri sejumah tokoh dan jajaran kepolisian ini membantah berita terjadinya pengusiran santri di sebuah pesantren di sana. Keduanya mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan menjunjung tinggi persaudaraan.

Berikut bunyi surat klarifikasi secara lengkap yang ditandatangani Ketua Pimpnan Daerah Muhammadiyah (PDM) KH Sadali dan Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) KH Ubaidillah Noor.


Menyikapi perkembangan pemberitaan (issue) di media sosial terkait dauroh tahfidh al-Qur’an di Dukuh Alang-alang RT 02 RW 04, Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sehubungan dengan isu penolakan dan pengusiran santri Ittihadul Ma’had Muhammadiyah (ITMAM) yang hendak melakukan dauroh tahfidh al-Qur’an Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, maka dengan ini Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jepara dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Jepara menyatakan klarifikasi sebagai berikut:

1. Pemberitaan bahwa telah terjadi penolakan dan pengusiran santri adalah tidak benar.


2. PCNU Jepara dan PDM Jepara sepakat menyikapi masalah tersebut dengan mengedepankan ukhuwwah islamiyah, ukhuwwah wathaniyah, ukhuwwah basyariyah serta tunduk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.


3. Menyekapakati agar gedung yang diwakafkan kepada PP Muhammadiyah tersebut dihentikan (dimauqufkan) penggunaannya untuk beberapa waktu sampai segala sesuatunya terpenuhi.


4. Mengintensifkan komunikasi semua pihak dan mewaspadai paham radikalisme serta pihak lain yang hendak memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Surat klarifikasi tersebut ditandatangani pula oleh sejumlah saksi, antara lain AKBP Yudianto Adhi Nugroho (Kapolres Jepara), H Mashudi (Ketua MUI Kabupaten Jepara), Rustamaji (atas nama Kepala Bakesbangpol), H Badrudin (PKUB Jateng untuk Jepara), Arif Darmawan (atan nama Kepala Dinas Kominfo). 

Sebelumnya beberapa media yang diduga dikelola Muhammadiyah, media radikal hingga media abal-abal kompak menghakimi  warga dan NU Karimunjawa tanpa memandang kejadian yang sebenarnya. Sangpencerah.com misalnya menulis berita dengan judul “pihak NU dan Camat Karimunjawa Minta Tahfidz Muhammadiyah Dibubarkan” atau berita lainnya “Kelompok Intoleran Berhasil Bubarkan Tahfizdul Qur’an Muhammadiyah di Karimunjawa”.

Akibat berita-berita tersebut, media lainnya dan para netizen makin liar melakukan propaganda dan citra negatif yang dilancarkan kepada NU dan warga Karimunjawa. Misalnya NU disebut Syiah, warga Karimunjawa dianggap melindungi kamaksiatan, NU dituduh mengusir santri, warga Karimunjawa dianggap mengancam pembubaran, Banser disebut PKI. Bahkan yang sangat disayangkan ITMAM sendiri ikut berkomentar negatif soal keputusan warga Karimunjawa tersebut. Kabar terakhir, ITMAM melaporkan kasus YBM Karimunjawa ini ke Komnasham.

Fullday School Dibatalkan, Madrasah Diniyah Menuai Harapan 

Serambimata.com – Akhirnya, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah tak bisa diteruskan setelah Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagaimana tercantum dalam lembaran negara nomor 195/2017 tanggal 6 September 2017, sebagai bagian dari upaya negara menjaga Pancasila dan NKRI. Permendikbud yang sempat menuai pro kontra tersebut batal dengan sendirinya setelah ditandanganinya Perpres oleh Presiden, Rabu (6/9/2017) di Istana Negara Jakarta. 

Read the rest of this entry

Dari Pesantren untuk HUT Kemerdekaan Republik Indonesia

Serambimata.com – Sudah dua hari berlalu Ulang Tahun ke-7 Kemerdekaan RI ke-72 diperingati serentak di seluruh pelosok negeri. Upacara bendera sebagai salah satu ritual wajib di setiap hari kemerdekaan 17 Agustus digelar di berbagai tempat, mulai dari perkantoran, sekolah, pesantren, istana negara hingga di gunung-gunung, udara bahkan di laut. Bagi umat Islam, momen seperti ini tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang jasa para pahlawan dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan tapi juga penting untuk penanaman cinta tanah air yang menjadi salah satu indikator keimanan seseorang, hubbul wathan minal iman. 

Read the rest of this entry