Iklan

KH TGB Zainul Majdi: Berbeda dengan Arab, Khilafah Tak Cocok Di Indonesia

Serambimata.com – Sosok yang satu ini belakangan menjadi sorotan, muda, cerdas bahkan seorang Hafidz. Namanya disebut-disebut cocok maju pada pilpres 2019 mendatang sehingga tak sedikit yang terang-terangan mencalonkannya sebagai Pemimpin Indonesia masa depan. Salah satu kelompok yang menjagokannya sebagai presiden adalah mereka yang getol menyuarakan Khilafah.

Sayangnya, sosok yang digadang-gadang menjadi khilafah justru tak sejalah dengan cita-cita khilafah yang diusung di Indonesia. Adalah DR. KH. TGB. Zainul Majdi, Gubernur NTB yang hadir dalam sebuah acara dialog kebangsaan di Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, yang mengangkat tema Merangkai Simpul-simpul Keindonesiaan.

Acara yang digelar dari jam 21.30 sampai 23.00 pada Juma’at, 2 Februari 2018 kemarin, memang menempatkan TGB. Zainul Majdi, demikian ia biasa dipanggil, sebagai nara sumber tunggal.

Diskusi yang dihadiri peserta terbatas ini berlangsug sangat hangat. Pihak pesantren sengaja mengundang berbagai elemen masyarakat, seperti para kyai, para tokoh masyarakat, akademisi, LSM, mahasantri, mahasiswa, politikus lintas partai, dan professional di kota Cirebon.

Menurut Zainul Majdi, Gubernur NTB yang sudah terpilih dua kali ini, hasrat penerapan sistem khilafah di Indonesia tidak relevan. Alasannya adalah NKRI ini lahir bukan hadiah dari penjajah, tapi justru sebagai alat untuk menggalang persatuan dalam rangka melawan dan mengusir penjajah.

Dalam ceramahnya, beliau mengatakan bahwa NKRI ini lahir sebagai penyatuan dari keterpisahan wilayah di Indonesia. Maka, ketika NKRI ini berdiri, kita mendengar bagaimana sejarah mencatat para raja dan sultan menyerahkan kekuasaannya, seperti di Yogjakarta, Solo, di luar Jawa, dan lain-lain untuk memperkuat NKRI.

Hal ini, menurutnya, berbeda dengan apa yang terjadi negara-negara seperti Arab Saudi, Oman, atau Kuwait. Di sana, nation yang terbentuk adalah nation yang digagas oleh penjajah untuk memecah belah keutuhan.

Kita tahu bahwa Inggris dan Perancis telah memecah belah keutuhan mereka dengan aksi penjajahannya. Maka hadirnya wacana khilafah yang ditawarkan oleh para pemikir di sana mendapat sambutan di masyarakat.

“Jadi, dengan skenario dan pemecahan yang dilakukan para penjajah, maka tumbuhlah resistensi yang kemudian melahirkan kembali sistem kekhalifahan”, tegasnya.
Kita di Indonesia, menurut beliau, tidak punya pengalaman itu. Jika nation state yang ada di Jazirah Arab itu merupakan rekayasa dari penjajah Arab untuk pemecahan terhadap satu kesatuan, tapi kalau kita di Indonesia justru sebaliknya.

Zainul Majdi mengingatkan banyak di antara kita yang kerap gagal menerjemahkan pengalaman bangsa lain atau orang lain lalu menerapkannya mentah-mentah tanpa proses kontekstualisasi dengan realitas historis kita.

Misalnya ada seorang pejuang kemerdekaan yang ditangkap penjajah, lalu dijebloskan ke penjara, dan di dalamnya mengalam berbagai penyiksaan. Ketika pejuang tersebut menuliskan pengalamannya, pasti akan menyuarakan pergolakan dan perjuangan melawan penjajahan, namun tidak bisa ditangkap mentah-mentah untuk konteks kita.

“Jadi, yang salah bukan mereka, tapi kitalah yang gagal menerjemahkan pengalaman orang lain dengan kontekstualisasi”, tandasnya.

Dalam Islam, kontekstualisasi ini penting. Menurutnya, Islam tidak hadir di wilayah yang kosong, tapi hadir untuk mengisi, menyelesaikan, dan mengharmoniskan realitas yang padat dengan segala perbedaan warna-warninya.

Membahas soal nasionalisme, beliau membedakan antara nasionalisme yang dimaknai sebagai hubbul wathon atau cinta negeri yang mewujud dalam kehendak untuk lepas dari segala penjajahan dengan nasionalisme yang digunakan untuk mengkokohkan hasrat kesombongan sebagai suatu bangsa.

“ Nasionalisme dengan makna hubbul wathon yang berbentuk kehendak kuat untuk lepas dari segala penjajahan diakui oleh Islam”, tegasnya.

KH. Imam Jazuli, Lc., MA, selaku Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, menyatakan pemikiran tokoh muda TGB Zainul Majdi mengenai Indonesia ini sangat dibutuhkan hari ini.

Indonesia membutuhkan tokoh-tokoh yang hadir dengan konsep dan komitmen untuk menyatukan segala macam perbedaan sehingga keragaman kita menjadi aset kita, bukan malah sebaliknya.

Pada kesempatan itu,KH. Imam Jazuli, Lc., MA menyebut TGB sebagai gubernur dengan pemikiran yang nasionalis religius serta segudang pengalaman dan prestasi menjadi gubernur dua periode berhasil membangun NTB.

“Saya kira beliau layak kita dorong menjadi pemimpin nasional” pungkasnya

Indonesia ini, menurut Kyai Imam Jazuli, akan terperosok ke dalam jurang bencana yang sangat membayahayakan, apabila tokoh-tokohnya hadir untuk memecah belah persatuan dengan mengedepankan kebenaran egoisme kelompoknya.

[Data diolah dari Tribunnews.com]

Iklan

About serambimata

Terus menulis

Posted on 7 Februari 2018, in Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: