Iklan

Gus Allama Bantah Ruqyah Aswaja Menggunakan Khodam Jin

Gus Allama ‘Alauddin Siddiqi bersama Pembina JRA Jawa Timur, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy

Serambimata.com – Semakin tinggi suatu pohon semakin keras angin menerpa. Peribahasa ini sangat tepat ditujukan kepada Jam’iyah Ruqyah Aswaja (JRA), sebuah organisasi yang berjuang dan berdakwah melalui terapy dan pengobatan dengan menggunakan ayat-ayat Al Qur’an. Bagaimana tidak, Jamiyah Ruqyah yang dengan tegas menyatakan berfaham Aswaja dan berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU) justru dituding menggunakan jasa atau bantuan (khodam) jin.

Menanggapi tudingan tersebut, pendiri dan pembina JRA, Gus Allama A’lauddin Siddiqy membantahnya. Menurut pria yang akrab dipanggil Gus Amak itu, di organisasi yang dipimpinannya terdapat larangan yang wajib di ta’ati oleh semua anggotanya. Aturan tersebut adalah :

1) Kekerasan dan ketidakberadaban terhadap marqi (pasien) semisal memukul, menjambak, meludah, menendang, menyentuh bagian sensitif.

2) Menggunakan sarana benda najis dalam pengobatan seperti darah, air kencing, comberan, tulang Babi.

3) Mematok mahar dalam pengobatan Ruqyah, walaupun itu jumlahnya sedikit karena ruqyah adalah bagian dari Ibadah tak layak bagi praktisi memaharkan ruqyah. Anggota yang memaharkan ruqyah tidak akan dapat peringatan namun langsung sanksi dikeluarkan dari JRA dengan mencabut Kartu Tanda Anggota Jam’iyyah Ruqyah Aswaja ( Karta JRA).

4) Memvonis Marqi terutama marqiyyah (Pasien) bahwa di dalam tubuhnya ada Jin karena akan berakibat gangguan psikis pada marqi.

5) Membuka tempat praktek dirumahnya tanpa disertai piagam kompetensi yang diperoleh dari pembinaan yang dilakukan oleh Pengurus Pusat JRA.

6) Menggunakan bantuan khodam (prewangan) Jin meskipun muslim semisal dgn cara nyambat atau menghadirkan Jin Muslim.

“Dari point 6 ini sudah jelas bahwa di JRA dilarang keras menggunakan khodam jin meskipun jin Muslim. Jangankan menggunakan khodam jin wong praktisi yg masih “terindikasi” gangguan pun dilarang meruqyah terlebih dahulu sebelum dinyatakan bahwa dia sudah boleh meruqyah”, jelas Gus Amak.

Gus Amak menambahkan, setiap calon praktisi yang telah mengikuti pelatihan tidak serta merta boleh meruqyah. Ada satu syarat yang harus dipenuhi untuk dapat melaksanakan aktifitas ruqyah sebagai media dakwah dengan Al Qur’an sebagai obat pertama dan utama.

“Jadi di tiap ijazahan JRA akan alfaqir cek satu persatu para calon praktisi, yang boleh meruqyah alfaqir gunakan katagori “A” sedang yg belum alfaqir izini katagori “B”. Katagori ini bukanlah “nilai”, karena yang berhak menilai manusia adalah Alloh Azza Wajalla. ” A” dan “B” hanya Istilah untuk orang yg sudah diizini meruqyah dan belum di Izini Meruqyah bukan menilai. Praktisi yang katagori “A” bisa saja besoknya menjadi “B” ketika dia katagori “B” maka dia belum boleh meruqyah namun dia harus melakukan ruqyah mandiri selama 11, 21 atau 41 hari meskipun ketika di pelatihan dia berkatagori “A” misalnya”, tambahnya.

Kendati begitu, menurut Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Kalijaga, Ngadirejo, Diwek, Jombang itu, meskipun yang berkatagori “A” sudah ada “lampu hijau” untuk meruqyah, tapi jika mereka masih enggan untuk meruqyah tidak bisa dipaksa. Namun ia meyakini suatu hari nanti yang bersangkutan akan membutuhkan pengobatan Ruqyah.

“Sebab, sebagai manusia, kita selalu di ganggu bangsa jin kafir (setan) walaupun kita tidak meruqyah atau tidak menjadi peruqyah.

ثُمَّ لَاٰ تِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ ….

“kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka…. ” (Al-A’raf Ayat 17)”, katanya dengan menyertakan dalil ayat Al Quran.

Dengan mengutip penjelasan Imam Ghozali, Gus Amak menjelaskan bahwa ada dua arah yang tidak diganggu oleh keturunan Iblis (setan) yaitu arah atas dan bawah. Arah atas maksudnya adalah do’a dan arah bawah maknanya tawadlu‘.

Jadi, orang yang senantiasa tawadlu’ tidak mudah bagi setan mengalahkan mereka, begitu pula orang yang selalu berdo’a maka setan tidak akan mudah mengganggu mereka. Dan ruqyah adalah bagian dari do’a itu sendiri.

“Berdasarkan pengalaman alfaqir dulu, setelah pelatihan/Ijazahan dengan mudahnya membolehkan para peserta untuk meruqyah atau dalam bahasa bebasnya meng “A” kan semua peserta justru hasilnya fatal, contoh : orang yg was-was (katagori A) pasca pelatihanya semestinya ia masih melakukan ruqyah mandiri namun dia memaksakan diri untuk meruqyah maka was-was yg di alaminya semakin parah bukan justru kesembuhan yang didapat”, kisah Gus Amak.

Gus Amak menghimbau bagi yang sudah dibolehkan meruqyah hendaknya dia mengamalkan Ilmu yang sudah diajarkan, membantu dan mendoakan sesama untuk menggapai kesembuhan.

Sumber: Halaman Facebook Gus Allama ‘Allauddin Siddiqi.

Iklan

About serambimata

Terus menulis

Posted on 26 Juli 2018, in Agama and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: