Mengungkap Kembali Peran Kyai As’ad atas Lahirnya Nahdhatul Ulama (NU)

image

Serambimata.com – Kisah yang mengungkap tentang peran KHR As’ad Syamsul Arifin atas lahirnya Nahdhatul Ulama (NU) diangkat kembali untuk mengenang peran dan pejuangan beliau dalam proses lahirnya ormas terbesar di Indonesia itu, sekaligus untuk menyambut peringatan Haul Majemuk Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Sayafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, yang akan diselenggarakan tanggal 22 – 26 Februari. Seperti diketahui Kyai As’ad merupakah pengasuh kedua pondok pesantren yang sudah berusia lebih dari 1 abad itu.

Peran Kiai As’ad dalam proses berdirinya NU tidaklah kecil. Tidak hanya menjadi saksi hidup, beliau juga pelaku sejarah yang berperan sebagai mediator atau penghubung antara dua ulama besar penggagas NU: KH Chalil Bangkalan dan KH Hasyim Asy’ari di Jombang

Berikut ini kami sajikan sekilas tentang lahirnya Nahdhatul Ulama yang diperoleh dikutip langsung dari Pidato KH. As’ad Syamsul Arifin semasa hidup beliau. Pidato yang sempat terdokumentasikan ini adalah sebuah rekaman suara tanpa gambar asli. Selengkapnya berikut ini :

Dalam pembukaan pidatonya, beliau mengatakan

Bismillahirrahmanirrahim… yang akan saya sampai sekarang kepada kalian ini, tidak bersifat pengarahan dan tidak pula bersifat nasihat. Saya disini hanya ingin bercerita saja.

Sebelum memulai ceritanya, Beliau melontarkan sebuah pertanyaan:

Apakah kalian bersedia mendengarkan cerita ini? Kalau kalian bersedia, maka saya akan menceritakannya. Begini saudara, tentunya (hadirin) yang hadir sekarang ini dari keluarga NU, kan? Para hadirin menjawab: “Enggi” (ya). Beliau melanjutkan kembali, Ya kalau ada (dari kalian) yang bukan selain dari NU, ya tidak apa-apa, silahkan mendengarkan (atau tidak), tidak apa-apa. Akan tetapi, karena yang saya akan ceritakan ini adalah tentang NU, dan saya adalah orang NU dan tidak berubah-ubah (baca: yakni seenaknya bertingkah semaunya), saya tetap NU.

Selanjutnya, beliau menceritakan tentang awal cikal bakal berdirinya NU. Beliau mengatakan:

Jadi Saya akan menceritakan kepada kalian, kenapa kok ada NU?, biasanya kalau Mubaligh-mubaligh bercerita (dalam pidatonya) mengambil isi dari beberapa kitab, tetapi (untuk saat ini) saya hanya akan bercerita tentang, kenapa kok ada NU di Indonesia? Apa sebabnya?

Sebelum melanjutkan, beliau menyarankan untuk menyimaknya, dengan berkata:

Tolong dengarkan kan ya, terutama pengurus Cabang, dst. kenapa kok ada NU di Indonesia?

Kemudian, beliau menjelaskan:

Umat Islam di Indonesia ini, kira-kira kurang lebih mulai dari tahun 700 an tahun yang lalu, Para Pelopor, para Auliya’ (mubaligh) menyebarkan ajaran Islam ke Indonesia dengan membawa Syari’at Islam, menurut aliran salah satu empat Madzhab atau yang dikenal dengan istilah ahl –al-Sunnah wa al-Jama’ah atau juga dinamakan dengan ajaran Rasulillah Muhammad Saw., khusnya Madzhab Shafi’i. Madzhab ini adalah madzhab terbesar yang ada di Indonesia, sedangkan Madzhab-madzhab yang lain juga ada (akan tetapi sedikit). Semua itu adalah Islam ahl –al-Sunnah wa al-Jama’ah, termasuk ajaran yang dibawa oleh Wali Songo, baik yang dibawa oleh Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati. – semuanya adalah para ulama, pelopor yang masuk ke Indonesia dengan membawa Syari;at Islam ahl –al-Sunnah wa al-Jama’ah.

Kira-kira tahun 1920 an, waktu saya ada dibangkalan (Madura), di Pondok Kyai Kholil. Pada suatu hari kedatangan tamu dari beberapa ulama Indonesia. Yang saya herankan (kedatangan tamu waktu itu) datang secara bersamaan, padahal sebelumnya tidak ada perjanjian (untuk sowan ke Kyai Khalil). Tamu (ulama) yang hadir berkisar 66 ulama Indonesia. Masing-masing ulama tersebut melaporkan kepada Kyai Muntaha. Para Ulama tersebut menuturkan, “bagaimana ini Kyai Muntaha, mohon sampaikan kepada Kyai Khalil soalnya saya tidak berani menyampaikannya ini semua secara langsung. Para ulama yang bertamu sekarang ini berniat ingin sowan kepada Hadrat al-Shaikh Kyai Khalil dan kita tidak ada yang berani (untuk sowan langasung) kalau bukan anda yang menyampaikannya” kemudian. Kyai Muntaha berkata: “apa keperluannya?”. Para tamu tersebut menjawab: “Begini Kyai, sekarang ini mulai ada kelompok-kelompok yang tidak suka dengan ulama-ulama salaf, begitu juga dengan karya yakni kitab-kitabnya. Mereka hanya mau mengikuti (dalam beragama) terbatas kepada al-Qur’an dan al-Hadith saja, sedangkan yang lain (dari kedua itu) tidak perlu diikuti. Terus bagaimana warisan para pelopor terutama Wali Songo kalau hanya (al-Qur’an dan Hadith) saja yang diikuti di Indonesia. Sebab rupanya, kelompok ini melalui (didukung oleh) kekuasaan pemerintah jajahan, Hindia-Belanda. Mohon Kyai, hal ini disampaikan kepada Kyai Khalil.

Belum sampai para tamu tersebut sampai kepada ndalem (kediaman) Kyai Khlail. Kyai Khalil memanggil Kyai Nasib, seraya berkata: “Nasib, kesini! Sampaikan ya kepada Muntaha bahwa di al-Qur’an itu sudah ada keterangannya, sudah cukup. Ayat tersebut berbunyi:

يُريْدُوْنَ اَنْ يَطْفِئُوْا نُوْرَ اللهِ بِاَفْوَاهِهِمْ وَيَاءْبَى اللهُ اِلَّا اَنْ يُتِمَّ نُوْرَهُ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut (ucapan-ucapan) mereka, padahal Allah enggan (tidak menghendaki) selain menyempurnakan cahaya (agama dan tuntunan)-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.”

Jadi kalau sudah dikehendaki oleh Allah Swt. maka kehendaknya akan terjadi, tidak akan gagal. Kasih tau ya, ke Muntaha. Jadi dari sini, para Tamu belum sowan menemui Kyai Khalil, jawabannya sudah dijawab oleh Kyai Khalil.

Setelah itu, Kyai As’ad menjelaskan tentang fenomena tersebut dengan mengatakan:

Jadi para tamu belum sowan sudah dijawab oleh Kyai (Kholil). Ini karomah saudara, belum datang sudah dijawab keperluannya. Jadi para ulama tidak menyampaikan apa-apa, Cuma bersalaman. “Saya puas sekarang” kata Kyai Muntaha. Jadi saya belum sowan, sudah dijawab hajat saya ini.

Kyai As’ad mulai berkisah tentang dimulainya pertemuan-pertemuan yang diadakan sebelum NU lahir:

Tahun 1921-1922 ada musyawarah di Kawatan (Surabaya) di rumah Kyai Mas Alwi. Ulama-ulama berkumpul sebanyak 46, bukan 66. Tapi hanya seluruh Jawa, bermusyawarah termasuk Abah saya (KH. Syamsul Arifin), termasuk Kyai Sidogiri, termasuk Kyai Hasan almarhum, Genggong, membahas masalah ini.

Seperti apa, seperti apa? Dari Barat Kyai Asnawi Qudus, Ulama-ulama Jombang semua, Kyai Thohir. para Kyai berkata: “Tidak ada jadinya, tidak menemukan kesimpulan.” Sampai tahun 1923, kata Kyai satu: “Mendirikan Jamiyah (organisasi)”, kata yang lain: “Syarikat Islam ini saja diperkuat.” Kata yang lain: “Organisasi yang sudah ada saja.” Belum ada NU.

(Sementara) yang lain sudah merajalela. Tabarruk-tabarruk sudah tidak boleh. Orang minta berkah ke Ampel sudah tidak boleh. Minta syafaat ke nenek moyang sudah tidak boleh. Ini sudah tidak dikehendaki. Sudah ditolak semua oleh kelompok-kelompok tadi. Seperti apa bawaan ini.

Hingga akhirnya salah satu ulama menghadap dan menyampaikan pemikirannya :

Kemudian ada satu ulama yang matur (menghadap) sama Kyai: “Kyai, saya menemukan satu sejarah tulisan Sunan Ampel. Beliau menulis seperti ini (Kyai As’ad berkata: “Kalau tidak salah ini kertas tebal. Saya masih kanak-kanak. Belum dewasa hanya mendengarkan saja”): “Waktu saya (Sunan Ampel Raden Rahmatullah) mengaji ke paman saya di Madinah, saya pernah pernah bermimpi bertemu Rasulullah, seraya berkata kepada saya (Raden Rahmat): “Islam Ahlussunah wal Jama’ah ini bawa hijrah ke Indonesia. Karena di tempat kelahirannya ini sudah tidak mampu melaksanakan Syariat Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Bawa ke Indonesia.”

Jadi di Arab sudah tidak mampu melaksanakan syariat Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Pada zaman Maulana Ahmad, belum ada istilah Wahabi, belum ada istilah apa-apa. Ulama-ulama Indonesia ditugasi melakukan wasiat ini.

Kesimpulannya mari Istikharah. Jadi ulama berempat ini melakukannya. Ada yang ke Sunan Ampel. Ada yang ke Sunan Giri. Dan ke sunan-sunan yang lain. Paling tidak 40 hari. Ada 4 orang yang ditugasi ke Madinah.

Akhirnya, tahun 1923 semua berkumpul, sama-sama melaporkan. Hasil laporan ini tidak tahu siapa yang memegang. Apa Kyai Wahab, apa Kyai Bisri. Insya Allah ada laporan lengkapnya. Dulu saya pernah minta sama Gus Abdurrahman dan Gus Yusuf supaya dicari.

Sesudah tidak menemukan kesimpulan, tahun 1924, Kyai (Kholil) memanggil saya. Ya saya ini. Saya tidak bercerita orang lain. Saya sendiri. Saya dipanggil: “As’ad, ke sini kamu!”

Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh kyai, karena saya tidak bisa mengucapkan huruf Ra’. Saya ini pelat (cadal). “Arrahman Arrahim…”

Kyai marah: “Bagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!”

“Saya tidak sengaja Kyai. Saya ini pelat.”

Kyai kemudian keluar (Kyai Kholil melakukan sesuatu). Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekaromahan Kyai yang diberikan kepada saya.

Kedua, saya dipanggil lagi: “Mana yang cedal itu? Sudah sembuh cedalnya?”

“Sudah Kyai.”

“Ke sini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asy’ari Jombang. Tahu rumahnya?”

“Tahu.”

“Kok tahu? Pernah mondok di sana?”

“Tidak. Pernah sowan.”

“Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan.”

“Ya, kyai.”

“Kamu punya uang?”

“Tidak punya, kyai.”

“Ini.”

Saya diberikan uang Ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya.

Setelah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi: “Ke sini kamu! Ada ongkosnya?”

“Ada kyai.”

“Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan suka merokok?”

Saya dikasih lagi 1 Ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan. Masih ada sampai sekarang. Kyai keluar: “Ini (tongkat) kasihkan ya, (Kyai Kholil membaca QS. Thaha ayat 17-21):

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١﴾

“Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

Karena saya ini namanya masih muda. Masih gagah. Sekarang saja sudah keriput. Gagah pakai tongkat dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel: “Orang ini gila. Muda pegang tongkat.”

Ada yang lain bilang: “Ini wali.”

Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila, ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu, saya hanya disuruh Kyai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu.

Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Karena masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti. Rusak semua, yang menghina terlalu parah. Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kyai. Saya terus jalan.

Sampai di Tebuireng, (Kyai Hasyim bertanya): “Siapa ini?”

“Saya, Kyai.”

“Anak mana?”

“Dari Madura, Kyai.”

“Siapa namanya?”

“As’ad.”

“Anaknya siapa?”

“Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin.”

“Anaknya Maimunah kamu?”

“Ya, Kyai”

“Keponakanku kamu, Nak. Ada apa?”

“Begini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil) untuk mengantar tongkat.”

“Tongkat apa?”

“Ini, Kyai.”

“Sebentar, sebentar…”

Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas). “Bagaimana ceritanya?”

Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١﴾

“Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

“Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jam’iyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kyai Kholil kepada saya.”

Inilah rencana mendirikan Jam’iyah Ulama. Belum ada Nahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah mendengar kabar berdirinya Jam’iyah Ulama. Saya tidak mengerti.

Setelah itu saya mau pulang. “Mau pulang kamu?”

“Ya, Kyai.”

“Cukup uang sakunya?”

“Cukup, Kyai.”

“Saya cukup didoakan saja, Kyai.”

“Ya, mari. Haturkan sama Kyai, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jam’iyah Ulama akan diteruskan.”

Inilah asalnya Jam’iyatul Ulama.

Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil: “As’ad, ke sini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?”

“Tidak, Kyai.”

“Hasyim Asy’ari?”

“Ya, Kyai.”

“Di mana rumahnya.”

“Tebuireng.”

“Dari mana asalnya?”

“Dari Keras (Jombang). Putranya Kyai Asy’ari Keras.”

“Ya, benar. Di mana Keras?”

“Di baratnya Seblak.”

“Ya, kok tahu kamu?”

“Ya, Kyai.”

“Ini tasbih antarkan.”

“Ya, Kyai.”

Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.

Terus, pagi hari Kyai keluar dari Langgar: “Ke sini, makan dulu!”

“Tidak, Kyai. Sudah minum wedang dan jajan,”

“Dari mana kamu dapat?”

“Saya beli di jalan, Kyai”

“Jangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?”

“Ya, Kyai.”

Saya makan di jalan dimarahi. Santri kok menjual harga dirinya? Akhirnya saya ditanya: “Cukup itu?”

“Cukup, Kyai.”

“Tidak!”

Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi. Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya: “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.” Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir.

“Ini.”

Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya. “Kok leher?”

“Ya, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh.”

“Ya, kalau begitu.”

Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu: “Ini orang yang megang tongkat itu? Wah.. Hadza majnun.” Ada yang bilang “wali”, ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kyai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena amanatnya Kyai. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya.

Ada yang narik: “Karcis! karcis!”

Saya tidak ditanya. Saya pikir ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas karomahnya Kyai. Jadi Auliya’ itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin.

Saya lalu sampai di Tebuireng, Kyai (Hasyim) tanya: “Apa itu?”

“Saya mengantarkan tasbih.”

“Masya Allah, Masya Allah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?”

“Ini, Kyai.” (dengan menjulurkan leher).

“Lho?”

“Ini, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su’ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk Anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik Anda.”

Kemudian diambil oleh Kyai: “Apa kata Kyai?”

“Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.”

“Siapa yang berani pada NU akan hancur. Siapa yang berani pada ulama akan hancur.” Ini dawuhnya.

Pada tahun 1925, Kyai Kholil wafat tanggal 29 Ramadhan. Banyak orang berserakan. Akhirnya pada tahun 1926 bulan Rajab diresmikan Jam’iyatul Ulama. Ini sudah dibuat, organisasi sudah disusun. Termasuk yang menyusun adalah Kyai Dahlan dari Nganjuk, yang membuat anggaran dasar. Kemudian para ulama sidang lagi untuk mengutus kepada Gubernur Jenderal. Ya, seperti itulah yang dapat saya ceritakan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Berikut suara asli pidato KHR As’ad Syamsul Arifin yang berkisah tentang peran baliau dalam lahirnya Jamiyyah Nahdhatul Ulama (NU). dikemas dalam bentuk video garapan Lembaga Bahtsul Masail PCNU Surabaya :

Posted on 17 Februari 2016, in Agama, Budaya and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Subhanallah KH As”ad Gufiro lahu Seorang Ulama Besar yang memiliki Jasa Besar yang memuluskan amanat Kyai Kholil yang melahirkan Jamiyyah Nahdhotul Ulama kepada Kyai Hasyim Asy”ari berdiri pada bulan Rojab 1926.luar biasa beliau Kyai As”ad meski saya belum pernah berjumpa langsung dengan beliau, namun beliau pernah memberi amanat meski hanya melaui mimpi saat dibelakang Rumahnya dengan pesan bacaan dzikir Ya Muhayminu ya Salam salimna walmuslimin saat kepemimpinan NU dipegang Kyai H.Ahmad Shidik amin….

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: