Inilah Sosok Abdul Ghani dan Ismail, Korban Pembunuhan Sadis Dimas Kanjeng

Dari Kiri ke kanan, jazad Ismail, Abdul Ghani dan Dimas Kanjeng

Serambimata.com – Tak ada yang menyangka kalau sosok yang memiliki banyak pengikut karena dikenal dapat menggandakan uang, Ki Dimas Kanjeng Taat Pribadi ditangkap paksa atas dugaan pembunuhan berencana. Karena kejahatannya yang tergolong sadis itu, Polisi mengerahkan 2 Satuan Setingkat Kompi bersenjata api lengkap untuk mengepung dan menggerebek Ki Kanjeng dan para pengikutnya yang sedang berada di padepokannya Desa Wangkal, Gading, Probolinggo. 

Pria yang  bergelar Rajasanagara sejak diangkat sebagai raja Problinggo itu ditetapkan sebagai tersangka otak pembunuhan berencana terhadap dua mantan pengikut setianya Abdul Ghani warga Probolinggo dan Ismail Hidayah warga Situbondo. Keduanya dibunuh lantaran dicurigai akan membocorkan rahasia pedepokan setelah menyatakan diri keluar dari padepokan. Munculnya dua nama korban  yang menjadi motif ditangkapnya Dimas Kanjeng membuat banyak orang penasaran siapa sosok mereka berdua dan bagaimana kronologis pembunuhannya. 

Abdul Ghani

Abdul Ghani adalah warga Semampir, Kecamatam Kraksaan, Problinggo. Pengusaha emas perhiasan itu merupakan korban terakhir yang jasadnya ditemukan pada Kamis, 14 April 2016 lalu oleh para nelayan di Waduk Gajah Mungkur (WGM). Mayat Abdul Ghani ditemukan di bawah Jembatan Kedung Ireng, Sendang, Wonogiri, Jawa Tengah dalam kondisi telanjang. Bagian kepala ditutupi plastik warna biru yang diikat dengan lakban hitam.

Abdul Ghani Korban Pembunuhan Dimas Kanjeng

Berdasarkan olah forensik pada mayat, korban diperkirakan meninggal 3 hari sebelumnya. Korban juga mengalami penyiksaan yang sadis sebelum tewas. Terdapat beberapa luka di tubuh korban.
“Ada trauma di kepala yang tidak menyebabkan kematian tapi bisa membuat pingsan. Luka seperti bekas jeratan tali, memar di luar dan dalam leher. Hal itu dapat menyebabkan kematian dan diperkuat adanya organ dalam pada saluran napas paru-paru dan jantung menghitam,” rilis resmi olah forensik Polres Wonogiri waktu itu. Hasil pemeriksaan juga menemukan ada luka bekas ikatan di tangan kanan dan di pergelangan kaki kanan.

Polres Probolinggo lalu bekerja sama dengan Polres Wonogiri menguak kasus tersebut.

Berdasarkan penyelidikan terungkap bahwa korban mati karena dibunuh tim Preman padepokan atas perintah Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Seminggu sebelumnya korban mengancam akan membongkar kedok penipuan penggandaan uang yang dilakukan Dimas jika uang setoranya tak dikembalikan. Mendengar ancaman tersebut Dimas mengundang Abdul Ghani ke kediamanya dengan  mengiming-imingi uangnya akan cair. Rupanya kadatangan Abdul Ghani ke padepokan menjadi hari terakhir dalam hidupnya karena di dalam ruangan telah menunggu 22 santri bagian pelindung yang menganiaya dan membunuhnya.
 
Untuk menghilangkan jejak, mayat dibuang di waduk Gajah Mungkur Wonogiri hingga ditemukan para nelayan sedang mengambang di bawah jembatan. Tidak main-main, Kasus ini ditangani langsung oleh Polda Jawa Timur. 22 tersangka telah ditangkap dan Dimas ditetapkan sebagai otak pembunuhan. 

Korban berhasil diidentifikasi  sehari setelahnya (15/04/2016) saat  keluarga korban mencocokkan ciri-cirinya. Korban atas nama Abdul Ghani,  warga Semampir, Kecamatam Kraksaan, Problinggo, 


Ismail Hidayah

Setahun sebelumnya, pada Februari 2015 jasad Ismail Hidayah, warga Situbondo juga ditemukan dengan kondisi kematian korban sama dengan Abdul Ghani, kedua leher korban sama-sama dijerat tali, kedua tangan terikat ke belakang dan kepalanya dibungkus plastik kresek.

Ismail merupakan wirausahawan yang bergerak dalam bidang jual beli pakaian.
Di luar kesibukan itu, Ismail pengurus di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi sejak 2010. Di padepokan itu, Ismail memegang jabatan cukup penting

Istri Ismail Hidayah, Bibi Resemjan mengatakan ia terakhir kali melihat suaminya pada 2 Februari 2015. Saat itu suaminya pamit hendak menunaikan salat Magrib di Masjid Al Amanah yang lokasinya hanya berjarak 50 meter dari rumah mereka di Desa Wringin Anom, Panarukan, Situbondo.

Korban Ismail Hidayah bersama putera kesayangannya


Menurut istrinya, Saat itu Ismail disebutkan tidak membawa handphone (HP) dan dompet miliknya. Nah, hingga pukul 20.00, Ismail tidak kunjung pulang. Merasa cemas, Bibi pun mendatangi takmir Masjid Al Amanah. Sayangnya ta’mir masjid mengaku tidak melihat Ismail salat berjamaah di masjid setempat.

Suaminya yang tak kunjung pulang membuat Bibi khawatir. Keesokan harinya atau pada 3 Februari 2015, Bibi melapor ke Polres Situbondo terkait suaminya yang belum pulang ke rumah. Hingga akhirnya pada 5 Februari 2015, ia mengaku ditelepon oleh petugas Polres Probolinggo tentang penemuan mayat Mr. X. Saat itu, ciri-ciri mayat yang ditemukan serupa dengan ciri-ciri Ismail.

Yakni, memakai baju takwa warna biru selutut dan memakai sarung kotak-kotak warna biru. “Namun, saya tidak bisa memastikannya karena saat saya datang, mayatnya (Mr X) ternyata sudah dikubur,” katanya.
Baru pada 1 Juni 2016 lalu, pihaknya dihubungi petugas Polres Probolinggo untuk diminta memastikan identitas mayat Mr. X yang pada akhirnya dipastikan bahwa Mr. X adalah Ismail Hidayah. 

Kematian Ismail bisa dibilang sangat traggis, bagaimana tidak, menurut orang nomor satu di kepolisian Jatim, korban yang dibuang di daerah hutan di Situbondo hanya ditanam pelaku tidak sampai 1 meter.

Akhirnya lokasi pembuangan mayat itu dieker-eker anjing kemudian warga sekitar berdatangan.
“Pelaku kami anggap tidak berkemanusiaan. Masak orang dibunuh dan dibuang begitu saja,” tandas kapolda 

Dimas Kanjeng Mengakui Menjadi Otak Pembunuhan

Menurut kapolda, tersangka Kanjeng Dimas Taat Pribadi, sudah mengakui keterlibatannya dalam pembunuhan terhadap Ismail dan Abdul Gani.

“Waktu dikendaraan sudah mengakui kalau dia (tersangka) yang menyuruh 10 anak buanya. Sekarang tinggal pengembangannya,” tuturnya.
Sama-sama Koordinator Pengepul Uang
Korban Ismail dan Abdul Gani adalah mantan koordinator pengepul uang yang akan digandakan oleh tersangka.

Sebagai pengepul, mereka bertanggung jawab terhadap uang orang lain yang dibawa untuk digandakan.

“Setelah korban tahu jika uangnya tidak cair, korban yang diangkat sebagai sultan akan mengungkap dan dilaporkan ke polisi.”

“Tapi korban ditawari uang Rp 20 miliar oleh tersangka. Nyatanya kedua korban dibunuh,” ujar kapolda.

Tersangka yang dicurigai sebagai otak pembunuhan, bakal dijerat pasal 340 KUHP dengan ancaman paling ringan 15 tahun dan paling berat seumur hidup.

“Tersangka terlibat pembunuhan direncanakan dan terbukti turut serta menghilangkan nyawa, karena dia swbagai leader,” jelasnya.

Posted on 25 September 2016, in Sosial and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. kenapa nga dituntut hukuman mati bosss…. kan motivnya pembunuhan direncanakan dan dilakukan sangat sadis!

    Suka

  2. Dimas Kanjeng lagi di Makkah om, itu yang ditangkap Polisi sebenarnya cuma Jelmaan Genderuwo

    Suka

  3. Harusnya dituntut hukuman mati nih. Sangat membahayakan kaum muslim krn menyebar kesyirikan, ajaran sesat dan melakukan dosa besar (pembunuhan). Hukum mati paling pantas, berikut antek2nya yg ikut membunuh.

    Suka

  4. Kanjeng dimas harus dihukum mati….membunuh berencana dan penipuan….byk pengikutnya khdpnnya jd susah,

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: