Iklan

Malam 1 Muharram di Kota Santri, Sepi tak Berenergi

Alun-alun kota Situbondo di malam 1 Muharram 1439 H

Serambimata.com – Menyusuri sepanjang jalan di kota santri Situbondo pada malam pergantian tahun baru Islam 1439 Hijriah tak ubahnya seperti malam lainnya, sepi tak tak berenergi. Hanya bising lalu lalang kendaraan dan beberapa orang yang tampak sedang bersenda di warung-warung kaki lima. Alun-alun kota juga tampak lengang, tak ada hiruk-pikuk dan keramaian apalagi panggung besar atau pertunjukan bernuansakan Islam yang menandakan kalau malam itu ada peristiwa penting bagi umat Islam. Bahkan gemuruh zdikir juga tak terdengar dari lapangan alun-alun yang luas itu.

Di malam yang menandai awal kalender Islam itu tak dijumpai iring-iringan pawai obor dan lampion yang  menyesaki jalan-jalan kota seperti tahun-tahun lalu. Hanya beberapa musholla kecil dengan segelintir santrinya yang menggelar pawai di lorong-lorong sempit dan gang-gang kecil dengan segala keterbatasan tanpa pengawalan keamanan. Benar-benar tak ada nuansa ke gembiraan bahkan aroma suka cita atas datangnya tahun baru Islam sama sekali tak terasa di kota kecil berjuluk kota santri ini. 

Sungguh sangat berbeda dengan momentum tahun baru masehi yang rutin dirayakan dengan gegap gempita atau kemeriahan perayaan Hari Ulang Kemerdekaan yang baru saja usai dengan beragam acara dan pesta “tujuh hari tujuh malam”. 

Tiada maksud menafikan upaya pemerintah daerah yang mungkin telah berikhtiar agar kekhidmatan perayaan malam 1 Muharram  tidak ternodai, sebenarnya apa yang terlihat malam ini sudah lebih baik daripada merayakan tahun baru Islam dengan panggung dandutan dan jogetan seperti satu tahun silam yang mendapat banyak kecaman. Tapi membiarkan kota santri sepi tanpa hingar bingar syiar keislaman juga tak patut ditunjukkan. 

Sebagai kota kecil yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, di dalamnya juga terdapat beberapa pesantren besar bahkan berjuluk kota “santri” dengan slogan “bumi sholawat nariyah” tak seharusnya menjadikan perayaan hari besar semisal Tahun Baru Islam lebih sepi dan lengang dibanding hari besar lainnya. Hari besar Islam seharusnya lebih menjadi kebanggaan masyarakat Situbondo sebagai simbol keagamaan, kecintaan dan kesyukuran. Masyarakat muslim Situbondo pasti senang dan bangga bila tahun baru agamanya dicipta istimewa tak kalah dengan perayaan lainnya. 

Tapi di bagian lain kota ini ada kabar menggembirakan tentang puluham ribu santri yang  menggelar pawai sebagai tanda cinta sambil menggemakan sholawat di atas panggung megah sebagai bentuk suka cita. Maka, tiba-tiba lahir rasa bangga meskipun kemeriahan itu tak digelar di jantung kota, setidaknya dapat menghibur rasa sepi di kotanya sendiri, di sebuah kota yang nafasnya seperti berhenti, tanpa hingar-bingar dan senandung-senandung Islami. 

Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo merayakan malam Tahun Baru Islam dengan pawai dan bersholawat

Atau jangan-jangan kota ini sedang “ngambek” dan bersedih setelah tahun lalu  di momen yang sama dikecam dan diserang habis-habisan karena merayakan tahun baru Islam dengan dangdutan. Entahlah!.

Apapun yang terjadi, semoga saja kota kecil ini tetap damai, aman, tentram dan nyaman tanpa kutukan dan murka Tuhan karena kufur tak bersyukur. Amiin. (Hans)

Iklan

Posted on 21 September 2017, in Sosial and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: