Iklan

Mbah Maimun Zubair, Driver Taksi Online dan Seorang Penumpang

KH. Maimoen Zubair


Serambimata.com – Sebuah obrolan menarik antara seorang wanita yang berprofesi sebagai sebagai driver ojek online dengan salah satu penumpang yang menggunakan jasa Grabcar yang dikemudikannya. Obrolan berawal biasa-biasa saja itu menjadi menarik ketika sampai pada topik tentang salah tokoh sepuh yang disegani, KH. Maimun Zubair atau Mbah Maimun. 

Cerita itu bermula ketika di suatu pagi seorang pria menggunakan jasa Grabcar dari Hotel untuk mengantar ke Stasiun Tawang. Ia mengaku kaget disaat ia tahu pengemudinya ternyata seorang perempuan. Singkat cerita, pria yang menumpang taksi online bersama istri dan anak-anaknya itu hanyut dalam obrolan ketika kendaraan yang ditumpanginya berhenti menunggu istrinya yang sedang menuju ke pusat oleh-oleh sebelum ke stasiun yang dituju.

 
Obrolan bermula dari ibu driver Grabcar yang tiba-tiba membuka obrolan.

Ibu Driver: ” bapak dan keluarga dari mana?”

Penumpang pria menjawab, ” oh dari Rembang bu.”

Dia pun menimpali lagi: ” asli dari Rembang ya pak?”

Penumpang: ” oh bukan bu, saya dari Jakarta.”

Serasa ingin tahu, Ibu driver ini bertanya lagi: ” oh wisata ya pak di sana.”

Penumpang: ” ouh, ndak, saya ziarah ke guru saya, Mbah Kiai Maimun Zubair.”

Mendengar nama Mbah Kiai, Ibu driver ini seperti kaget.

Dia : ” bapak bisa bertemu Mbah Maimun?”

Si penumpang pria pun heran mendengar nada bertanya ibu itu: ” iya bu, memangnya kenapa?”

Dia: ” kata orang, beliau susah ditemui.”

Penumpang: ” masak iya bu?”

Dia: ” iya pak. Katanya kalau orang yang niatnya gak baik, susah menjumpai Mbah Maimun.”

Penumpang: ” wah kalau itu saya gak tahu ya bu. Tapi alhamdu lillah, dua kali saya silaturahim ke tempat beliau selalu diterima.”

Dia: ” oh, iya pak. Ngomong-ngomong Mbah Maimun itu Islamnya aliran apa ya?”

Penumpang: ” Lho, memangnya di Islam itu ada aliran?”

Dia: ” iya pak, kayak NU, Muhammadiyyah, Persis, Syiah. Nah, Mbah Maimun itu apa ya alirannya.”

Penumpang: ” Mbah Maimun itu ngikuti Rasulullah bu.”

Memperhatikan gaya dia bertanya, penumpang pun langsung tebak si ibu driver, ” ibu ngaji salafi ya?” Dia pun tampak kaget dengan pertanyaan si penumpang. Lalu dia jawab:

“iya pak. Kok bapak tahu?”

Penumpang: ” kelihatan bu”. Jawab saya sambil tertawa kecil.

Dia : ” iya pak, meskipun saya ngaji salafi tapi ada beberapa aturan salafi yang saya terjang.”

Penumpang: ” Lho, memangnya ada aturan di pengajian salafi?”

Dia: ” iya pak. Salah satunya larangan bawa mobil ini. Para ustadz salafi sudah peringatkan kalau perempuan haram membawa kendaraan.”

Penumpang: ” Lha, terus kenapa ibu terjang?”

Dia: ” yah, habis kalau saya gak bawa grab begini, saya mau makan apa pak? Wong sekarang cari kerja itu susah.”

Dia pun akhirnya menceritakan statusnya yang janda dan pengalaman bisnisnya yang selalu rugi. Sampai pada satu point, dia mengatakan:
“Para ustadz itu terkadang ngomongnya menggampangkan. ‘Minta saja sama Allah pasti dikasih rejeki’ padahal uang kan gak turun dari langit. Minta rejeki juga ada usahanya.”

Penumpang lalu menimpali : ” iya bu. Para ulama salaf dulu juga gak kaku-kaku amat. Mereka itu orang yang moderat cara berpikirnya walaupun juga berhati-hati.”

Ibu Driver: ” saya itu ngaji salafi juga belum total banget pak.”

Penumpang: ” maksudnya belum total bagaimana bu?”

Dia: ” itu pak, masih nonton tv dan bawa mobil ini. Kan ada itu pak ustad yang haramkan nonton TV bahkan mengharamkan nonton Rodja TV sekalipun.”

Saya; ” oh gitu ya bu?”

Tiba-tiba, dia mengalihkan pembicaraan tentang Prof. Quraish Shihab. Tuduhan Syiah dan sesat kepada orang alim itu meluncur tanpa kendali dari mulutnya. Sambil memperlihatkan video Prof. Quraish yang berbicara tentang Rasulullah tidak masuk surga, dia pun meminta opini saya. Ia juga bertanya kepada saya tentang Prof. Quraish dan puterinya yang tidak berjilbab.

Mendengar celotehan seperti itu, si penumpang pria mengatakan :

“Maaf bu, saya tidak kenal Prof. Quraish Shihab dan beliau pun tidak kenal saya. Kalau saya berkomentar tentang beliau itu artinya saya sok tahu. Kalau saya ikut menceritakan kehidupan pribadi beliau dan keluarganya, itu namanya ghibah. Bukankah ghibah diharamkan di dalam Al-Qur’an?”

Dia pun terdiam tidak melanjutkan obrolan. Sementara itu anak sulung dan anak kedua saya terlihat menahan tawa menyaksikan obrolan tidak seimbang di dalam Grabcar itu.

Sebelum mengakhiri obrolan, penumpang mengatakan sesuatu kepadanya, “semoga Allah memasukkan suami ibu ke dalam surga karena keshalehan yang ibu tunjukkan.”

Dari mulutnya terdengar suara amin yang diiringi tangis kecil, sambil berucap, “terima kasih ya pak”.

Sumber: dutaislam.com

Iklan

Posted on 20 November 2017, in Agama, Tak Berkategori and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: